This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, August 26, 2009

Pada Zaman Apa Kita Berada ?

Sesungguhnya Allah mengatur alam ini dengan suatu pengaturan yang rapi dan tersusun. Penciptaan alam ini ada mulanya dan ada akhirnya dengan cara dan masa yang telah ditentukan-Nya.
Kita sebagai makhluk hendaknya menyadari tentang hakikat ini, dengan merenung hikmah dan pengajaran disebaliknya agar dapat bertindak tepat sesuai dengan kehendak Allah.

Oleh karena itu senantiasa ada peringatan dari Rasulullah SAW untuk umatnya agar menyadari di zaman apa dia berada dan bagaimana dia harus bertindak demi menyelamatkan Iman dan Islamnya.
Rasulullah SAW bersabda :
"Telah berlaku zaman kenabian keatas kamu, maka berlakulah zaman kenabian itu sebagaimana yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkat zaman itu.
Kemudian berlakulah zaman khalifah yang berjalan sepertimana zaman kenabian. Maka berlakulah zaman kenabian itu sebagaimana yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya.
Kemudian berlakulah zaman pemerintahan yang menggigit. Berlaku zaman itu seperti yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya juga,
Kemudian berlakulah zaman pemerintahan diktator (zaman penindasan dan penzaliman), dan berlakulah zaman itu sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian berlaku pula zaman khalifah yang berjalan diatas cara hidup zaman Kenabian"
[H.R. Imam Ahmad, Bazzar dan Attabrani dari Abu Huzaifah Al-Yamani]
Hadits diatas jelas menunjukkan bahwa Umat Rasulullah SAW akan menempuh 4 zaman secara bergilir-gilir sebelum dunia kiamat yakni :


1. Zaman Kenabian (Nubuwwah) dan rahmat
2. Zaman Khulafaurrasyidin dan rahmat
3. Zaman fitnah (kerusakan) dan kegelapan
4. Zaman Khalifah atau Ummah kedua yang berjalan diatas cara hidup
zaaman kenabian yakni zaman pemerintahan Imam Mahdi dan Nabi Isa.

1. Zaman Nubuwwah (Kenabian) dan Zaman Khulafaurrasyidin atau lebih dikenal dengan Zmaan Ummah Pertama
Iman umat Islam ketika itu sangat kukuh. Menyebut nama Allah saja mampu menggetarkan hati mereka.
Cinta dan takutnya kepada Allah tergambar pada setiap perkataan dan perbuatan mereka. Secara umum ciri-ciri zaman ummah pertama ini dapat diketahui sebagai berikut :
1. Ibadah mereka sangat banyak. Solat, puasa, zikri dan wirid susah ditandingi banyak dan khusyuknya.

2. Ukhuwah dan kasih sayang sangat padu, setiap orang mencintai saudaranya seperti mencintai saudara sendiri.

3. Jihad dan mati syahid menjadi idaman dan cita-cita. Mereka akan sangat merasa dukacita jika tidak diizinkan untuk pergi ke medan jihad.

4. Akhlak menjadi perhiasan diri, mereka mampu berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepada mereka.

5. Masyarakat dan negara Islam dapat dibangun sehingga layak digelar sebagai negara yang aman makmur dan mendapat keampunan Allah.

6. Tamaddun dan pembangunan rohani mencapai zaman puncaknya.

7. Islam berhasil menaklukkan dua empayar besar dunia yang sedang berkuasa saat itu (kerajaan Romawi dan Parsi) untuk kemudian memayungi ¾ dunia.

2. Zaman Fitnah atau Zaman Kerosakan
Zaman ini merupakan zaman kerosakan dan kegelapan. Pada zaman ini umat Islam jatuh kedalam jurang kehinaan yang berkepanjangan, yang merupakan akibat dari kelalaian dan angkara murka yang terjadi di dunia Islam, sehingga Allah biarkan merka. Hal ini sesuai dengan janji Allah bahwa Allah hanya akan menjadi pembela kepada orang-orang bertaqwa.
Ciri-ciri zaman fitnah ini adalah :


1. Negara Islam satu persatu mulai jatuh dan dijajah oleh orang kafir.

2. Akidah umat Islam pada saat itu sangat rapuh, ada diantaranya Islam di waktu pagi dan kafir di waktu petang

3. Ibadah sangat lemah, solat, puasa dan membaca Al-Qur'an tidak lagi diamalkan secara bersungguh-sungguh atau bahkan diamalkan sama sekali.

4. Ukhuwah sesama Islam sangat lemah sehingga terjadi peperangan dan pembunuhan sesama umat Islam.

5. Orang kaya sangat bakhil dan kedekut, manakala orang miskin tidak sabar dan hasad dengki

6. Penyakit cinta dunia dan takut mati sangat tebal dan mewabah dalam hati umat Islam.

7. Jenauah dan kemunkaran yang terjadi dalam masyarakat Islam hampir tidak ada bezanya dengan apa yang terjadi di kalangan masyarakat yang bukan Islam.

8. Akhlak umat Islam sangat lemah dengan berleluasanya hasad dengki, umpat mengumpat, tuduh menuduh, caci-mencaci dan saling mengkafirkan sesama umat Islam.

9. Wanita-wanita Islam telah dicabut rasa malunya dengan bertingkah laku tidak senonoh, menampakkan aurat di depan umum, menari dan menyanyi tanpa menjaga maruah diri.

10. Umat Islam terhina di seluruh aspek kehidupan. Politik, ekonomi, pendidikan, kesihatan, pertanian, dan lain-lain, sehingga umat Islam terpaksa bergantung pada sistem kufur dan isme buatan manusia.

11. Sedikit demi sedikit cara hidup umat Islam telah mengikuti cara hidup orang-orang Yahudi dan Nasrani.

12. Terjadi gejala-gejala buruk dan keji di tengah-tengah masyarakat Islam seperti dadah, homoseks, lesbian, dan lain-lain.

Namun kemunkaran yang sedang terjadi di zaman fitnah ini tidak melemahkan keyakinan dan semangat perjuangan segolongan manusoa yang tetap pendiriannya.
Mereka bukan saja mampu mempertahankan identiti Islam di kalangan mereka, bahkan mereka gigih berjuang untuk memperbaiki masyarakat. Inilah golongan-golongan yang lemah tetapi mempunyai keimanan dan keyakinan yang kuat dan kukuh serta perjuangan yang padu.


Rasulullah SAW bersabda :

"Senantiasa ada di kalangan umatku satu thoifah yang akan menzahirkan kebenaran dan tidak dapat dibinasakan oleh orang-orang yang tidak suka disisi mereka sampailah hari kiamat"

Namun untuk menghidupkan suasana Islam di tengah-tengah kerosakan dan kegelapan zaman zaman fitnah ini bukanlah suatu kerja yang mudah. Thoifah-thoifah islamiyah ini senantiasa diuji dan ditentang dengan berbagai macam fitnah dan ancaman. Tepat sekali sabda Rasulullah yang mengatakan bahwa Islam akan kembali asing.
Namun walaupun begitu, Islam akan kembali kuat dan memusnahkan segala bentuk kekufuran sebagaimana Rasulullah dulu berhasil melakukannya iaitu dengan jalan berdakwah dan mendidik hati manusia.
Inilah langkah-langkah awal menuju zaman Imam Mahdi dan Nabi Isa yang merupakan peringkat zaman keempat atau yang terakhir yang akan dialami umat Islam sebelum hari kiamat, setelah sekian lama umat Islam mengalami zaman fitnah.
3. Zaman Khalifah atau Zaman Ummah Kedua yakni Pemerintahan Imam Mahdi dan Nabi Isa
Di zaman ini Islam akan kembali lagi ke zaman kegemilangan dan keemasannya seperti di zaman Rasulullah dan Khulafaurrasyidin. Islam dapat menguasai dunia dan kembali menjadi penguasa sejagat.


Rasulullah SAW bersabda :
"Sebelum hari kiamat datang pastilah Islam itu bangun kembali walaupun antara mulanya Islam bangun dan mulanya kiamat hanya sekedar masa memerah susu. Zaman ini berlaku selama 40 tahun dan barulah dunia ini akan dibinasakan (kiamat) oleh Allah"

Kebangkitan Islam zaman ini akan sampai kepada puncaknya apabila berpadunya ketinggian kerohanian umat Islam dengan kecanggihan teknologi di bawah dua pemimpin besar umat Islam yaitu Imam Mahdi dan Nabi Isa.
Ciri-ciri zaman ini :
1. Islam dapat mencapai keagungannya kembali seperti yang telah dicapai oleh Rasulullah SAW 14 abad yang lalu.

2. Dunia seluruhnya akan kembali aman dan damai, keadilan akan kembali ditengakkan setelah sekian lama dipenuhi dengan huru-hara dan kezaliman.

3. Hati orang-orang miskin dan kaya dipenuhi dengan sifat redha dan kanaah sehingga tidak seorangpun yang mau menerima sedekah.

4. Harta-harta yaang melimpah ruah akan dibagi-bagikan dengan adil dan merata.

5. Umat Islam hidup dengan penuh kasih sayang dan cinta-mencintai satu sama lain.

6. Aqidah, ibadah dan seluruh aspek kehidupan masyarakat Islam berjalan sepenuhnya di atas landasan syari'at Nabi Muhammad SAW.

7. Segala fitnah dan maksiat, riba, zina minuman keras dan lain-lain kekufuran berhasil diperangi dan dimusnahkan.
Dari Minda Abuya.

Bulan Ramadhan Bulan Pesta Ibadah


Janganlah Ramadhan dijadikan pesta makan minum
Janganlah jadikan Ramadhan banyak tidur-tidur sahaja di siangnya
Janganlah jadikan Ramadhan selepas sedikit ibadah sembahyang
kemudian berbual dan borak-borak yang banyak
Selepas berbual-bual banyak pulang ke rumah kemudian tidur,
malam tidak bangun pula menghidupkan malam bersama Tuhan
Ramadhan bukan sekadar menghidupkan malam,
siang berlapar-laparan dan berletih-letihan
Ramadhan adalah untuk menghidupkan fikiran,
hati dan jiwa dengan rasa bertuhan
Ramadhan hendak memeriahkan jiwa dengan rasa kehambaan, rasa hina, rasa lemah
dan rasa kerdil di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa
Ramadhan hendak mengimarahkan jiwa dengan rasa rendah diri,
takutkan Tuhan, cintakan-Nya, rasa bertuhan sentiasa
Ramadhan hendak menghidupkan jiwa timbang rasa sesama manusia
Rasa kasih sayang, simpati sesama manusia yang derita, yang tidak punya apa-apa
Ramadhan hendak menebalkan rasa berdosa, takut kalau terlibat lagi dengan dosa
Ramadhan hendak rasa agung-Nya Tuhan, hebat dan kuasa-Nya Tuhan
Ramadhan bukan sekadar ibadah luaran-luaran yang meriah dan ceria
yang dalam gelap-gelita
Yang penting jiwa hendak dihidupkan, memeriahkan yang di dalam jiwa
Tuhan pandang bukan yang luaran tapi yang di dalam
Tuhan hendak melihat yang di dalam batin manusia apakah hidup jiwanya rasa bertuhan
Siangnya berpuasa, malam sembahyang, banyak membaca Al Quran
untuk memberi cahaya kepada jiwa yang selama ini gelap-gelita
Membanyakkan berzikir bukan lafaznya tapi penghayatannya
Berzikir bukan sekadar menyebut di lidah tapi menyebut di hati, dirasa oleh jiwa
Berzikir bukan di lidah tapi ingatan di hati
Kedatangan Ramadhan adalah dengan tujuan hendak menghidupkan hati
yang mati sebelumnya
Moga-moga kesan sebulan menghidupkan hati tahan setahun lamanya
Kemudian Ramadhan datang lagi hidupkan pula lagi hati yang mati
tahan pula setahun lagi
Itu bagi orang awam yang selalu sahaja cuai dan lalai
Bagi orang yang bertaqwa jiwanya hidup setiap masa
Kedatangan Ramadhan hanya untuk darjat dan pangkat di sisi Tuhannya
Tapi kalau kedatangan Ramadhan tidak pun menghidupkan jiwa
Luar meriah di dalam tidak meriah
Luar terang-benderang dengan syariat lahir, syariat batinnya gelap
Kalau di luar Ramadhan tentulah lebih-lebih lagi malang
Gelaplah hati sepanjang tahun
Tidak ada masa hati yang terang, sungguh malang
Dari minda Abuya

Ramadhan Tiba Lagi

Ramadhan Tiba Lagi
Dengan rahmat Tuhan Ramadhan tiba lagi
Ramadhan membawa hadiah-hadiah yang terlalu banyaknya
mahal dan besar-besar dari Tuhan
Hadiah buat orang bertaqwa
Bukan untuk orang Islam
Lebih-lebih lagi bukan untuk orang yang zalim dan fasiq
Hadiah dari Tuhan yang bermacam-macam
Diletakkan di dalam batil-batil dari bahan-bahan yang mahal
Di antara hadiah-hadiah itu ialah:
1. hadiah keampunan Tuhan, hadiah terbesar buat orang yang bertaqwa
2. hadiah keredhaan-Nya juga mahal
3. kasih sayang-Nya yang sangat diperlukan
4. rahmat-Nya
5. berkat dari-Nya dunia Akhirat
6. diberi-Nya pahala berganda-ganda.
7. hadiah lailatul qadar diberi ganjaran seribu tahun beribadah.
8. akhirnya Syurga Tuhan yang kekal abadi.
Kedatangan Ramadhan yang sebenarnya bertukar-tukar hadiah
di antara hamba-hamba dengan Tuhan
Hadiah di antara dua pihak bukan satu pihak sahaja
Hadiah dari Tuhan adalah mahal nisbah hamba
Hadiah dari hamba adalah mahal juga untuk Tuhan
Siapa yang dapat menghadiahkan sesuatu yang mahal kepada Tuhan
maka dapatlah hadiah dari Tuhan yang juga sangat mahalnya
Rupanya ketibaan Ramadhan pun bertukar-tukar hadiah
di antara hamba dengan Tuhan
Tidak semua hadiah hamba dibalas hadiah oleh Tuhan
Hadiah-hadiah yang mahal dari hamba sahaja yang balas hadiah oleh Tuhan
seperti yang akan disebutkan
Wadah-wadah orang yang bertaqwa yang hendak diisi dengan hadiah-hadiah tadi ada pulangannya
Wadah-wadah itu banyak pula di antaranya:
1. Ada wadah puasa yang diisi dengan keinsafan, timbang rasa, kesabaran, rasa hamba Rasa lemah, lembut hati, lapang dada, bertolak ansur
2. Wadah sembahyang diisi dengan hadiah-hadiah rasa kehambaan, rasa dilihat, Rasa hina, rasa rendah diri, lembut hati, rasa harap, malu, rasa kerdil, tawadhuk, khusyuk, Gementar, takut, taubat, menyesal, takut dengan dosa di masa depan.
3. Wadah membaca Al Quran diisi dengan dapat ilmu, pengajaran, keinsafan, Terasa kebesaran Tuhan, terasa rahmat dan kasih sayang-Nya kepada insane, Hati tenang, bertambah takut dengan Tuhan dengki hilang
4. Wadah zikir seperti tasbih, tahmid, takbir diisikan dengan mensucikan Tuhan, Memuji Tuhan, membesarkan Tuhan, tawakkal, penyerahan diri kepada Tuhan, baik sangka
Membesarkan Akhirat, mudah dengan dunia, dunia tidak menyusahkan hatinya
Tenang dengan dunia, gelisah dengan Akhirat
Jika setiap wadah-wadah tadi dapat diisi dengan rasa-rasa yang telah disebutkan tadi
Orang bertaqwa sungguh dapat manghayati Ramadhan dengan akal fikiran, hati dan jiwa raganya
Roh Ramadhan menjadi roh kepada hatinya dan jiwanya
Roh di atas roh, jiwa di atas jiwa
Rohnya bercahaya dengan cahaya Ramadhan
Itulah orang bertaqwa
Orang bertaqwa sahaja yang pasti dapat hadiah yang besar
Kerana orang bertaqwa itu dapat membawa hadiah pula untuk Tuhan
Hadiah-menghadiah bertukar-tukar hadiah di antara hamba dengan Tuhan
Sesiapa yang tidak dapat memberi hadiah di bulan Ramadhan kepada Tuhan seperti yang telah dinyatakan
Dia tidak akan dapat hadiah dari Tuhan
Sesiapa yang tidak dapat hadiah dari Tuhan sia-sia sahaja Ramadhan
Dia tidak dapat apa-apa kecuali dahaga, kelaparan, kehausan dan keletihan
Cuba kita fikirkan Ramadhan yang telah lama kita lalui
Adakah kita membawa hadiah-hadiah yang berharga kepada Tuhan?
Kita tentu dapat mengagak nilai hadiah yang kita anugerahkan kepada Tuhan setiap Ramadhan bukan?
Apakah hadiah hadiah kita itu Tuhan balas dengan hadiah yang telah disebutkan?
Semua soalan-soalan itu setiap orang boleh memberi jawapan
Berdasarkan ilmu pengetahuan seperti yang digambarkan
Sungguh susah hendak dapat hadiah dari Tuhan di bulan Ramadhan
Kerana bulan Ramadhan kita jadikan pesta minum dan makan
Pesta borak-borak dan bualan-bualan selepas sembahyang sebelum pulang
Bukan pesta mencapai hati dan jiwa takut dan cintakan Tuhan
Bulan Ramadhan sebenarnya adalah pesta rohaniah, pesta hati dan jiwa
Ramadhan bukan pesta lahiriah
Atau pesta syariat rohnya tidak ada
Dari minda Abuya

Ramadhan Bulan Overhaul Hati

Allah Taala menjadikan manusia dijadikan sekali
di mana kekuatannya dan kelemahannya
Tuhan tahu bagaimana menguatkan yang lemah
dan bagaimana menyuburkan yang kuat
Allah Taala tahu di mana kebaikan mereka,
dan di mana kejahatan mereka
Memang Tuhan ada bekalkan manusia ada benih baik ada benih jahat
Tuhan tahu dari punca apa dia baik dan dari punca apa dia jahat
Hatilah wadahnya yang boleh menerima kebaikan dan kejahatan
Di dalam masa setahun manusia terdedah dengan
berbagai-bagai ajaran dan cabaran
Cabaran itu seperti tekanan hidup, sibuk dengan kerja,
berhadapan dengan kerenah manusia
Berlaku juga ujian-ujian yang mendadak,
kemalangan yang tidak disangka,
melihat, mendengar perkara yang merosakkan
Ditambah lagi hasil didikan, bacaan semuanya ini
memberi kesan yang negatif kepada jiwa kebanyakan orang
Kecuali orang yang kuat dengan Tuhan
jiwanya tidak rosak dan tidak memberi kesan
Cabaran-cabaran itu tidak merosakkan jiwa mereka,
bahkan bertambah kuat dengan Tuhan
Dengan rahmat Tuhan dan kasih sayang-Nya
Tuhan perintahkan puasa Ramadhan dan lain-lain ibadah tambahan
Ramadhan boleh membaik pulih kejahatan
Kerosakan manusia setahun hanya sebulan
Seolah-olah Ramadhan bulan overhaul hati insan
Seperti kereta yang sudah lama dipakai,
banyak kerosakan telah berlaku terutama enjin, perlu overhaul
Overhaullah caranya membaikpulihkan kereta
yang perjalanannya sudah tidak berapa betul
Manusia yang sudah rosak jiwanya, fikirannya,
sikap dan tingkahlakunya dipulihkan melalui didikan Ramadhan
Didikan Ramadhan merupakan satu pakej pendidikan
di antara satu sama lain kuat-menguatkan
Siangnya puasa, sembahyang ditambah lagi dengan Tarawikh,
disusul dengan membaca Al Quran
Ditambah lagi dengan perkara-perkara sampingan,
zikir, tasbih, tahmid, salawat, tafakur
digalakkan bersedekah dan pemurah,
perbualan yang menambah kesedaran
Keseluruhan itu asasnya adalah mujahadah melawan nafsu
menentukan didikan Ramadhan berkesan atau tidak bekesan
Didikan Ramadhan ada mujahadah, ada didikan puasa,
didikan sembahyang
Ditambah lagi didikan Al Quran dan lain-lain lagi tambahannya
Mujahadah ertinya memerlukan kekuatan jiwa,
memaksa membuat yang disuruh,
memaksa meninggalkan larangan
Larangan itu sama ada yang lahir mahupun yang batin kenalah tinggalkan
Mujahadah ertinya memaksa, terseksa,
membencikan, menjemukan, meletihkan
Kalau jiwa tidak kuat usaha tidak dapat diteruskan,
atau buat tanpa kesungguhan
Kerana itulah mujahadah perlu pemangkin yang menggalakkan,
Pemangkin ialah puasa yang hati dan fikirannya puasa,
sembahyang yang dapat dihayati,
didikan Al Quran yang difaham dan dijiwai
Di antara didikan sembahyang, menebalkan rasa kehambaan
dan menajamkan rasa bertuhan
Di antara didikan Al Quran di sana ada khabar gembira,
ada amaran, ada suri teladan juga ada kesedaran dan keinsafan
Didikan puasa rasa lemah, rasa hamba,
rasa timbang rasa, menyedarkan dan menginsafkan
Daripada 3 pakej didikan yang utama itulah
menjadikan pemangkin menguatkan jiwa, menyuburkan jiwa,
meneguhkan keyakinan
Apabila jiwa kuat, jiwa subur, mujahadah pun kuat
Apabila jiwa kuat dan subur hikmah Ramadhan
daripada 3 pakej didikan tadi boleh bangunkan insan
Jika hikmah Ramadhan itu dapat dimiliki lahirlah manusia luarbiasa
Ertinya manusia yang dioverhaul di bulan Ramadhan
mengembalikan manusia kepada fitrah sucinya
Lahirlah manusia yang luar biasa,
iaitu manusia yang benar-benar rasa kehambaan
Manusia yang tawadhuk, sabar, redha, berkasih sayang,
bertimbang rasa, pemurah, kerjasama
Malu akan jadi pakaian, tawakal menjadi perasaan, keyakinan kental
Apabila sifat ini dapat dimiliki, automatik mazmumah terbasmi
Sombong, tamak, bakhil, pemarah, hasad,
dendam, gila puji, gila nama, takut mati
Inilah dia orang yang menang dan berjaya didikan Ramadhan
Selepas Ramadhan manusia itu kembali suci seperti fitrahnya yang semulajadi
Orang ini sahajalah yang layak berhari raya
Kerana berjaya mengembalikan kesucian fitrahnya,
hari raya namanya
Hari raya ertinya mengembalikan fitrah suci lagi murni
Kalau fitrah yang suci murni ini kekal sepanjang tahun,
Ramadhan yang akan datang
hanya memberi cahaya lagi, bukan overhaul
Begitulah didikan Ramadhan ramai orang yang gagal,
sedikit sangat yang berjaya
Dari Minda Abuya

Wednesday, August 5, 2009

Kuliah Kepimpinan 6:SYURA MENURUT ISLAM

Dalam kehidupan sama ada dalam kehidupan rumahtangga atau bermasyarakat, dalam kehidupan bernegara dan lain-lain, tidak terlepas daripada adanya masalah untuk diselesaikan. Adanya keperluan-keperluan sama ada keperluan berekonomi, berpendidikan, pembangunan dan lain-lain yang hendak dicetuskan atau tidak terlepas daripada keadaan-keadaan musuh yang ingin merosakkan yang perlu untuk dibendung. Hal-hal seumpama ini tidak akan dapat dicetuskan atau dilaksanakan sebaik-baiknya kecuali melalui mesyuarat atau syura untuk memikirkannya. Dan realiti ini tidak siapa boleh menolak. Kerana ia berlaku dalam pengalaman hidup. Oleh yang demikian Islam sangat menganjurkan dalam kehidupan ini mengadakan syura. Melalui syura, banyak masalah dapat diselesaikan. Di antara nas-nas Al Quran dan Hadis yang menganjurkan syura ini seperti:

Maksudnya: “Hendaklah kamu bermesyuarat dengan mereka dalam apa urusan.” (Ali Imran: 159)

Dalam ayat yang lain lagi Allah SWT berfirman:

Maksudnya: “Urusan mereka itu (orang Islam) adalah bermesyuarat sesama mereka" (As-Syura: 38)

Dalam Hadis pula ada menyebut di antaranya:

Maksudnya: “Tidak akan menyesal selepas mesyuarat.”

APA ITU SYURA?
Erti mesyuarat ialah bertukar fikiran atau berbincang atau berunding dalam satu masalah sama ada krisis, ekonomi, pendidikan, kemajuan atau apa saja tindakan yang dilakukan. Paling tidak oleh dua orang atau lebih. Ia berlaku dua hala. Setiap orang yang bersyura itu mengeluarkan fikiran kemudian dipertimbangkan bersama mana pendapat yang benar atau kuat atau tepat atau lebih munasabah atau mendekati kebenaran maka ia diterima bersama. Sama ada keputusan itu hendak jadi tindakan bersama atau untuk jadi tindakan seseorang atau satu kumpulan. Jadi syura itu berlaku dua hala atau lebih, bukan hanya berlaku satu pihak. Kalau satu pihak, ia bukan syura.

BAHAN ATAU PERKARA YANG DISYURAKAN
Dalam melakukan syura hendaklah kita faham bukan semua perkara mesti disyurakan. Perkara-perkara yang tidak boleh disyurakan, hanya terpaksa kita terima untuk tindakan ialah:

1. Hukum-hakam yang sareh atau sahih dan qati’e seperti sembahyang itu wajib, puasa wajib, meninggalkan arak wajib, menutup aurat wajib. Ini tidak boleh dibatalkan oleh mesyuarat. Ini sudah keputusan Allah.

2. Satu perkara yang telah diarahkan oleh ketua sama ada ketua jemaah atau negara yang jelas menurut syariat.

3. Satu keputusan yang sudah diambil dalam keluarga, jemaah atau negara hasil dari syura, yang mana ia memang boleh disyurakan, maka anggota keluarga itu tidak boleh membuat syura lain untuk menolaknya. Ini berdasarkan firman Allah:

Maksudnya: “Hendaklah kamu bermesyuarat dengan mereka itu dalam satu perkara, setelah kamu bulat menerimanya, bertawakallah pada Allah.”(Ali Imran: 159)

Keputusan tadi yang dibenarkan syariat, jangan diungkaikan lagi oleh satu mesyuarat lain. Teruslah laksanakan dan bertawakal kepada Allah.
Kalau begitu apakah perkara-perkara yang boleh disyurakan?
Antara perkara yang boleh disyurakan ialah:

1. Perkara-perkara yang bersifat harus .Contoh yang harus:
a. Hendak buat jalan raya
b. Pergi musafir
c. Buat bangunan untuk pejabat atau kawalan
d. Kenderaan yang hendak dibawa masuk ke negara
e. Bajet perbelanjaan
f. Beli senjata untuk pertahanan negara

2. Perkara-perkara yang bersifat teknikal.Contoh teknikal:
a. Bentuk rumah
b. Bahan yang hendak digunakan
c. Tempat
d. Masa
e. Banyak sedikitnya
f. Tenaga-tenaga yang diperlukan dalam sesuatu projek

Di dalam mesyuarat hendaklah diperhatikan syarat-syarat dan adab-adab. Setiap orang yang terlibat mestilah dapat mengikut disiplin agar keputusan syura itu tepat dan bersih serta diberkati oleh Allah. Di antara disiplin dan adab itu ialah:

1. Bertujuan kerana Allah atau ingin mencari kebenaran serta ingin melaksanakannya, bukan kerana kemegahan atau hobi atau riyak atau menunjuk-nunjuk kebolehan.

2. Setiap orang hendaklah hatinya merasa takut kepada Allah kerana kalau-kalau segala yang dibincangkan tidak tepat atau tidak selaras dengan kehendak Allah dan Rasul.

3. Hendaklah setiap orang memasang niat agar kebenaran itu datang daripada orang lain bukan dari dirinya sendiri agar terlepas dari sifat-sifat riyak, bermegah-megah atau ujub.

4. Bila terlihat kebenaran yang diucapkan oleh mana-mana anggota dalam majlis syura itu hendaklah penuh rendah diri dapat menerimanya.

5. Kalau kebenaran dapat dikeluarkan dari mulutnya sendiri hendaklah bersyukur kepada Allah SWT kerana Allah telah memperlihatkan kebenaran kepadanya.

6. Hendaklah menghormati pandangan atau pendapat anggota. Kalau dia sedang bercakap, jangan memotong cakapnya. Jika dia belum habis bercakap jangan disuruh berhenti. Kalau apa yang dikatakannya benar, ucaplah terima kasih, doakan Allah berikan keberkatan (jazakallah). Kalau salah, jangan menghina. Kalau mampu, betulkan dengan penuh kasih sayang dan mesra, dengan hujah-hujah yang bernas. Kalau kita yang salah, minta ampunlah kepada Allah dengan penuh rendah diri mahu menerima hakikat kesalahan itu.

7. Hendaklah diakhiri majlis itu dengan membaca doa kifarat atau minta ampun pada Allah.

8. Jangan mujadalah. Jangan tinggikan suara. Kalau berbeza pendapat atau menyalahi nas, hendaklah tawaquf.

9. Kalau pandangan tidak dapat disatukan, maka demi perpaduan hendaklah terima pandangan ketua.

KEPADA SIAPA BERSYURA
Seperti yang telah dinyatakan sebelum ini syura ertinya bertukar fikiran, berunding atau berbincang yang berlaku dua hala dalam mencari satu keputusan yang jitu bagi sesuatu perkara untuk dijadikan tindakan oleh orang atau golongan tertentu atau untuk tindakan bersama. Kalau begitu ertinya syura bukan kepada semua orang, tapi mesyuarat itu, ia dengan seseorang yang cerdik (ada buah fikiran) dan sesuai dengan bidang atau kepakaran yang ada, serta seorang yang bertaqwa. Kalau hendak disenaraikan adalah seperti berikut:

Orang yang hendak jadi partner dalam berbincang itu ialah:
1. Orang yang bertaqwa, supaya timbul keikhlasan dalam berbincang dan dalam berlaku adil.

2. Orang yang cerdik (ada buah fikiran).

3. Seorang yang sesuai dengan bidang yang hendak kita bincangkan itu.

4. Islam. Ini berdasarkan Hadis:

“Jangan kamu bermesyuarat dengan orang kafir dalam memikirkan urusan kamu.”

Sebab orang kafir tidak tahu hak atau batil. Orang kafir juga ada yang memusuhi Islam, jadi takut mereka memberi pandangan yang beracun.

Dengan empat syarat ini barulah Allah akan restu perbincangan dan dapat kejayaan dalam perjuangan. Bilangannya dua orang paling tidak. Tidak mesti rasmi-rasmi. Katalah kita memang ada hendak bincang suatu perkara, tiba-tiba berjumpa di rumah kenduri, mungkin kita ajak berjalan lalu kita pun berbincang. Berbincang secara tidak formal lebih baik, lebih mesra dan hati ke hati. Kalau tentang dasar pelajaran, bincang dengan orang yang berkaitan. Tentang agama dengan orang agama sahaja. Supaya keputusan dibuat oleh ahlinya. Supaya tidak hancur. Hadis ada berkata:

Maksudnya: “Tiada agama bagi yang tidak berakal.”

Ertinya panggil orang cerdik dalam agama. Tidak payahlah satu dewan, kalau seorang saja yang layak, seorang itu sahaja yang diajak berbincang. Berkait dengan soal-soal dasar negara atau hukum-hakam yang tidak jelas, contohnya timbul sesuatu isu, pemimpin negara hendaklah bermesyuarat dengan ulama-ulama yang bertaqwa, ilmunya luas, dihormati umum, punya pengalaman serta pengetahuan am atau general knowledge yang luas dengan tujuan
keputusan dihormati oleh orang ramai. Ini termasuklah keputusan syura yang telah disebut sebelum ini. Kalau ketua merasa ragu dengan keputusan syura itu untuk dijadikan tindakan dalam negara, bolehlah ianya dibawa ke majlis ahlul halli wal aqdi. Inilah Majlis Syuyukh atau Majlis Tamfiz (meluluskan) segala tindakan. Ahli Majlis Syuyukh ini tidak mesti dari pemimpin rasmi, boleh dijemput dari orang-orang yang mempunyai ciri-ciri tadi.

Kuliah Kepimpinan 5:BAIK TIANG-TIANG SERI MASYARAKAT BAIKLAH MASYARAKAT

Tidak ada orang yang suka masyarakat berpenyakit, bermasalah dan timbulnya gejala-gejala negatif. Misalnya berlaku berbagai-bagai bentuk jenayah dan vandalisme di dalam masyarakat seperti kecurian, rompakan, pergaduhan, penipuan, zina, rogol, tidak hormat pemimpin dan orang tua, tidak belas kasihan dengan kanak-kanak, merosak barang-barang umum, melepak, memekik-mekik dan melalak-lalak. Kerana hal seumpama ini akan merosakkan ketenteraman umum dan akan menjadikan orang ramai dan semua golongan hidup di dalam gelisah, takut, bimbang, resah dan tidak tenang sama ada ia berlaku secara langsung mahupun tidak secara langsung.
Bila terjadi hal-hal negatif di dalam kehidupan bermasyarakat; di sini yang hendak diperkatakan ialah masyarakat Islam seperti yang digambarkan di atas; sudah tentu ada golongan-golongan yang memikirkan bagaimana hendak mengatasi masalah. Biasanya tentulah cerdik pandai dan orang-orang penting masyarakat yang datang hendak memikirkan masalah
itu. Masyarakat umum tentu tidak tahu bagaimana hendak mengatasinya. Mereka bingung. Di dalam kebingungan dan ketakutan itu mereka menunggu siapa yang akan bertanggungjawab. Bila ada golongan yang hendak mengubat penyakit masyarakat, sudah tentulah mereka akan bermesyuarat dan berbincang membuat cadangan. Akhirnya rumusan-rumusan yang merupakan cara-cara bagaimana hendak bertindak dan usaha bagaimana hendak dilakukan diambil sebagai panduan. Bagi saya cara-cara, mekanisme dan usaha-usaha jadi nombor dua dalam menangani gejala-gejala masyarakat itu. Tapi asas utamanya untuk menyelesaikan masalah masyarakat itu iaitu tiang-tiang seri atau tonggak masyarakat yang hendak bertindak itu hendaklah baik terlebih dahulu. Yang dimaksudkan dengan tiang-tiang seri atau tonggak masyarakat ialah seperti ketua-ketua kaum, ketua-ketua masyarakat, para ulamanya, cerdik pandai, pemimpin-pemimpin politik, pegawai-pegawai pemerintah, terutama pegawai-pegawai tinggi, kemudian barulah ibu bapa. Mereka ini bukan saja perlu bertindak menangani masalah tetapi mereka mesti menjadi contoh kepada masyarakat. Agar orang ramai sayang, segan dan hormat. Agar orang ramai akan memberi sokongan dan kerjasama sepenuh hati dan padu. Lebih-lebih lagi mereka yang menimbulkan gejala-gejala itu akan segera malu dan hormat. Menjadikan lidah mereka masin. Lebih-lebih lagi agar tidak jadi bahan-bahan ejekan di belakang mereka atau bahan-bahan perli.
Tiang-tiang seri atau tonggak masyarakat adalah menjadi contoh, ikutan dan suri teladan kepada umum. Kalau mereka boleh menjadi contoh, usaha mereka itu akan berkesan kerana orang ramai menghormati dan malu kepada mereka. Cakap dan saranan mereka mudah diterima. Yang lebih penting dari itu adalah pertolongan Allah SWT yang akan memberi kejayaan melalui usaha-usaha mereka. Oleh yang demikian, tonggak masyarakat itu hendaklah orang yang elok ibadahnya, berilmu, berakhlak seperti merendah diri, pemurah, kasih sayang, lemah lembut, jujur, simpati, bertolak ansur, mengutamakan orang lain dan lain-lain lagi. Kalaulah tonggak-tonggak masyarakat ini baik, mereka akan disayangi dan dihormati. Mereka menjadi suri teladan kepada orang ramai. Usaha mereka diterima penuh. Perjuangan mereka disokong sepenuh hati. Orang ramai malu dan insaf. Bantuan Allah pun datang kerana ketaqwaan mereka. Tiang seri masyarakat itu ibarat tiang atau kayu. Orang ramai adalah bayangan kayu, kalau tiang atau kayu itu lurus, luruslah bayangannya. Kalau tiang atau kayu itu bengkok maka bengkoklah bayangannya. Begitulah apabila teras-teras masyarakat itu baik, maka baiklah masyarakat. Orang ramai mudah mengikut dan meniru. Lebih-lebih lagi yang diikut itu, orang yang mereka sayang dan hormati.
Pada hari ini bagaimanalah gejala masyarakat ini hendak ditumpaskan kalau tiang seri atau tonggak-tonggak masyarakat yang menguasai masyarakat serta ingin bertanggungjawab kepada masyarakat itu, sebahagian besarnya orang-orang yang tidak disayangi dan dihormati. Bahkan adakalanya usaha-usaha mereka itu jadi bahan-bahan ejekan. Kalau tidak terang-terangan pun, berlaku di belakang mereka. Ini kerana orang ramai dan penjahat-penjahat masyarakat itu tahu keburukan yang dilakukan oleh tonggak-tonggak masyarakat itu. Hingga mereka tidak disayangi dan dihormati lagi. Orang ramai tidak mahu menyokong sepenuh hati. Orang-orang jahat dalam masyarakat bertambah benci. Adakalanya mereka bertambah geram dan berdendam. Mereka bertambah lagi membuat tindakan-tindakan liar dan ganas yang lebih menyusahkan lagi. Sebagai contoh kejahatan-kejahatan orang yang menjadi tiang seri masyarakat ini, mereka mungkin tidak bersikap vandalisme tapi sombong dan pemarah. Kalau mereka tidak melepak-lepak, mereka rasuah. Kalau mereka tidak mencuri tapi tamak dan bakhil. Kalau mereka tidak berzina tapi mementingkan diri sendiri. Kalau mereka tidak bergaduh tapi riyak, suka glamour, ingin nama. Kalaupun orang ramai tidak tahu; kerana mereka tidak melakukannya di hadapan orang ramai; tapi Allah Taala tahu. Maka di sinilah usaha-usaha mereka Allah tidak bantu. Hari ini golongan tonggak masyarakat ramai lagi yang tidak atau belum sedar tapi ingin menyedarkan orang. Mereka kurang sangat membaiki diri tapi menyuruh orang ramai membaiki diri. Mereka mahu mengubah pengacau-pengacau masyarakat tapi mereka tidak mahu merubah diri. Lebih-lebih lagi di dalam keadaan mereka tidak berubah, mereka mengata pula, menuduh, menuding jari dan menghina golongan yang dianggap menimbulkan gejala masyarakat. Bukan saja orang jahat sakit hati, orang baik pun benci. Kerana orang ramai tahu, mereka juga perosak masyarakat tapi bentuknya saja yang tidak sama. Orang muda dengan caranya. Mereka dengan cara mereka tersendiri pula. Orang ramai melakukan gejala di tengah ramai secara terbuka tapi mereka melakukannya di tempat-tempat yang tertutup, di tempat-tempat yang eksklusif. Kalau masyarakat ramai tidak tahu tapi bolehkah lari daripada pengetahuan Allah? Kadang-kadang mereka itulah yang membuat program untuk menangani masalah-masalah masyarakat agar masyarakat bersih daripada segala bentuk jenayah dan daripada segala bentuk gejala yang negatif. Bagaimanalah Allah mahu membantu usaha-usaha itu kalau Allah Taala telah murka kepada penganjur-penganjurnya. Akibatnya habis masa, terkorban wang ringgit, sia-sia saja tenaga, hasilnya tiada. Gejala tetap terus berlaku. Adakalanya ia lebih teruk lagi. Oleh itu kita tidak cukup sekadar usaha saja, bantuan Allah itu amat diperlukan dan kenalah diambil kira. Jika Allah Taala tidak membantu usaha-usaha kita kerana dosadosa kita, sia-sia saja usaha kita. Bahkan adakalanya menambahkan dosa lagi serta gejala masyarakat tidak juga pulih dan bersih.

Sunday, August 2, 2009

Kuliah Kepimpinan 4:BILA ORANG JAHAT MENDIDIK ORANG JAHAT LEBIH-LEBIH LAGI MENDIDIK ORANG BAIK

Di akhir zaman ini, di mana-mana di bumi ini, ramai manusia rata-ratanya sudah tidak beriman. Bagi umat Islam pula telah terlalu lemah imannya. Apabila tidak beriman atau lemah iman, kesannya takut dengan Tuhan atau takut dengan Neraka sudah tiada atau telah terlalu lemah. Apabila takut dengan Tuhan sudah tiada atau telah menipis dan takut dengan Neraka pun telah tercabut dari hati manusia atau kalau ada pun sudah terlalu lemah atau nipis, di waktu itu apa lagilah yang boleh membendung dan menyekat manusia daripada melakukan kemungkaran dan maksiat atau daripada melakukan kesalahan dan dosa. Lebih-lebih lagi apabila manusia itu melakukan kemungkaran dan maksiat atau melakukan kesalahan dan dosa, mereka mendapat keuntungan di situ. Misalnya mendapat wang dan harta yang banyak, mendapat pangkat yang tinggi atau dapat mempertahankan pangkat dan jawatan yang tinggi, apat memiliki perempuan yang cantik, ramai pula, mendapat kenderaan yang besar lagi canggih, mendapat rumah yang tersergam gagah, besar dan indah. Sudah tentu mereka lebih berani dan nekad membuat derhaka dan dosa.

Di waktu itu, berleluasalah perbuatan penzaliman dan penindasan, pembunuhan, penangkapan, salah guna kuasa, mengambil kepentingan, pembohongan, pengkhianatan, penipuan, rasuah, pencerobohan, mungkir janji, terlibat dengan dadah, pencabulan, perogolan, perzinaan, minum arak, perjudian, pergaulan bebas, seks bebas, lesbian, homoseksual, tidak amanah, ponteng kerja, pencurian, hasad dengki, dendam, memfitnah, mengumpat, menghina, rompakan dan berbagai-bagai bentuk jenayah lagi.
Perbuatan-perbuatan yang negatif itu akan berlaku kepada semua golongan mengikut peluang dan kesempatan yang ada pada diri masing-masing. Ia tidak mengira golongan atasan atau orang bawahan, yang berkuasa atau rakyat jelata, pihak keselamatan atau pihak yang hendak dijaga keselamatan, orang kaya atau orang miskin, pemimpin atau pengikut, guru atau pelajar, orang bandar atau orang kampung, pihak pentadbir atau pihak yang kena tadbir, pemuda atau pemudi, orang tua yang sudah bersara atau yang masih bekerja. Bahkan tidak ada golongan yang terkecuali daripada melakukan kemungkaran dan maksiat atau kesalahan dan dosa-dosa.
Dalam keadaan begini, yang mudah melakukannya, yang banyak peluang serta mudah dapat perlindungan sudah tentulah golongan yang ada kuasa, pihak atasan, golongan pentadbiran, pihak keselamatan, yang berjawatan tinggi dan penting. Pihak-pihak lain walaupun banyak juga peluang tapi tidak dapat melakukan kejahatan yang besar-besar. Di samping itu mereka juga terdedah kepada tangkapan dan hukuman. Ertinya yang akan banyak terhukum adalah golongan yang tiada kuasa dan rakyat jelata, yang siapalah yang akan memperlindunginya dan ia akan berlakulah di seluruh dunia.

Apabila berlaku keadaan dan situasi yang digambarkan tadi, akan terjadilah satu suasana di dalam masyarakat manusia itu seperti di bawah:

1. Guru tidak mesti lebih baik daripada pelajar-pelajarnya.
2. Majikan tidak mesti lebih baik daripada buruh-buruhnya.
3. Orang-orang tua tidak mesti lebih baik daripada orang muda.
4. Ayah atau ibu tidak mesti lebih baik daripada anak-anaknya.
5. Orang besar tidak mesti lebih baik daripada orang-orang kecil.
6. Orang-orang kaya tidak mesti lebih baik daripada orangorang miskin.
7. Pihak pentadbir tidak mesti lebih baik daripada pihak yang kena tadbir.
8. Pihak keselamatan tidak mesti lebih baik daripada pihak yang hendak dijaga keselamatannya.
9. Orang pandai tidak mesti lebih baik daripada orang bodoh.
10. Pendidik tidak mesti lebih baik daripada orang yang hendak dididik.
11. Para ulama tidak mesti lebih baik daripada orang yang bukan ulama.
12. Orang yang hendak membaiki tidak mesti lebih baik daripada orang yang hendak dibaiki.
13. Pemimpin tidak mesti lebih baik daripada pengikut.
14. Orang yang hendak memulihkan tidak mesti lebih baik daripada orang yang hendak dipulihkan.
15. Orang yang berkuasa tidak mesti lebih baik daripada rakyat jelata.
16. Pendakwah tidak mesti lebih baik daripada orang yang kena dakwah.
17. Pemerintah tidak mesti lebih baik daripada orang yang kena perintah.
18. Orang yang menangkap tidak mesti lebih baik daripada orang yang kena tangkap.

Begitulah seterusnya akan berlaku kepada golongan manusia jika kita mahu senaraikan yang lebih detail dan menyeluruh. Apa yang kita senaraikan di atas adalah secara rambang dan
mewakili umum. Sekiranya berlakulah gambaran golongan manusia yang melakukan kejahatan dan kemungkaran di zaman ini; saya rasa ianya sedang berlaku di seluruh dunia; siapakah yang akan membaiki masyarakat? Siapakah yang akan memikirkan kemungkaran dan kejahatan? Siapakah yang akan menumpaskan penzaliman dan penindasan? Siapakah yang akan menjaga keselamatan? Siapakah yang akan menumpaskan pencerobohan? Siapakah yang akan menumpaskan penipuan? Siapakah yang akan membaiki orang-orang jahat yang berbagai-bagai golongan dan bentuknya?

Sudah tentulah berlaku di waktu itu, orang jahat akan memikirkan orang jahat. Ini berlaku hampir menyeluruh di dunia ini. Penzaliman dan penindasan akan difikirkan oleh orang yang zalim dan menindas. Kaki tipu akan membendung golongan penipu. Orang-orang jahatlah yang akan mendidik orang jahat. Orang yang belum pulih akidahnya akan memulihkan orang yang belum pulih. Orang yang tidak berakhlaklah yang akan berusaha membaiki akhlak orang yang tidak berakhlak. Penjahat-penjahatlah yang akan memikirkan orang-orang jahat. Orang jahatlah yang akan menangkap orang-orang jahat. Orang jahat yang akan menghukum orang-orang jahat. Yang paling malang ialah orang jahat hendak mendidik orang baik. Orang jahat yang hendak memimpin orang baik. Orang yang jahat hendak memulihkan orang yang baik. Orang yang zalim yang hendak menumpaskan orang adil. Orang yang rosak akhlak yang hendak membaiki orang yang baik akhlak. Orang yang tidak berakidah atau lemah akidah yang hendak membaiki akidah orang yang sudah baik akidahnya. Orang jahatlah konon yang hendak membaiki orang yang sudah baik. Orang jahatlah yang akan memerangi orang yang baik. Orang jahatlah yang akan menghukum orang baik.

Kalau berlakulah di bumi Tuhan ini masyarakat yang macam ini, apakah yang akan terjadi? Maka akan terjadilah orang baik yang banyak teraniaya. Orang jujur akan dimusuhi, orang yang benar akan dipersalahkan. Orang yang ikhlas dipandang serong. Orang yang jujur tidak disukai. Orang yang berkorban akan terkorban. Orang yang hendak mencari kedamaian dan keamanan dianggap orang yang hendak menggugat keselamatan. Orang yang hendak bersatu dianggap pemecah belah. Orang yang berakhlak mulia dimusuhi. Orang yang pemurah tidak digemari. Orang yang memperjuangkan kebenaran dianggap perosak dan pengkhianat. Siapa yang bersih hidupnya akan tersisih dan terpencil. Di waktu itulah orang-orang jahat mendapat tempat. Orang-orang jahatlah yang akan menjadi kaya. Orang-orang jahatlah yang akan berkuasa. Orang-orang jahatlah yang akan berilmu. Orang-orang jahatlah yang akan tertonjol. Orang-orang jahatlah yang akan dimuliakan. Orang-orang jahatlah yang akan diberi orang anugerah. Orang-orang jahatlah yang akan senang. Orang-orang jahatlah yang akan disanjung. Orang-orang jahatlah yang akan mentadbir. Orang-orang jahatlah yang akan membangun. Orang-orang jahatlah yang akan menguasai dunia. Akhirnya keturunan orang baik-baik jangka panjang menjadi jahat pula kerana terpengaruh dengan orang jahat. Kalau tidak berbuat begitu, tidak boleh hidup dan senang.