Monday, June 15, 2009

Keagungan dan Kebesaran Islam (2)-Pendapat Yang Sebenarnya

Sebenarnya letak keagungan dan kebesaran Islam itu adalah bahwa setelah didatangkan Rasulullah SAW, barulah manusia dapat mengenal Allah dengan tepat melalui sifat-sifat-Nya, misalnya melalui sifat Rahman-Nya dan Rahim-Nya, melalui sifat Qadim-Nya dan lain-lain. Ertinya setelah Rasulullah didatangkan barulah manusia ini dapat mengenal Allah dengan sebenar-benarnya yang sebelum kedatangan Rasulullah SAW manusia hanya tahu tentang adanya pencipta bumi dan langit ini tetapi manusia tidak betul-betul mengenal siapa Allah. Manusia ketika itu hanya dapat merasakan adanya Allah tetapi tidak mengenal Allah dengan tepat sesuai pengertian yang sebenarnya. Manusia di saat itu juga tidak tahu bagaimana hendak menyembah Allah, walaupun rasa bertuhan itu ada. Jadi, sebelum diutusnya Rasulullah manusia hanya menyembah Allah mengikut cara-cara yang mereka pikirkan sendiri, tidak mengikut cara yang sebenarnya. Baru setelah didatangkan Rasulullah dan Al Qur’an manusia mengetahui bagaimana cara menyembah Allah.

Selain dari itu, sebelum didatangkan Rasulullah atau sebelum adanya Islam manusia hanya tahu adanya akhirat tetapi mereka tidak betul-betul mengetahui bagaimana akhirat itu sebenarnya. Manusia juga tidak mengetahui tentang syurga dan neraka mengikut pengertian yang tepat. Setelah kedatangan Rasulullah, Al Qur’an dan Islam, barulah manusia mengetahui bagimanakah akhirat itu sebenarnya dan barulah manusia ini mengenal Syurga dan neraka dengan tepat. Ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW telah dapat memperkenalkan kepada manusia tentang Syurga dan neraka yang sebenar-benarnya.

Kita dapati di sini bahwa kedatangan Islam kepada umat ini menjadikan manusia dapat benar-benar mengenal Allah SWT, dapat mengenal negeri akhirat serta dapat pula mengetahui tentang Syurga dan neraka dengan tepat. Hasil daripada pengenalan ini, manusia dapat melahirkan rasa takut dan merasakan kehebatan Allah SWT, dapat merasa takut kepada neraka Allah dan cinta kepada syurga Allah. Dengan keyakinan inilah maka manusia dapat melawan hawa nafsu dan syaitan. Sebelum memiliki keyakian ini, manusia begitu mudah digoda nafsu dan syaitan padahal kita tahu bahwa syaitan itu adalah musuh manusia yang amat nyata seperti yang diperingatkan oleh Allah melalui firman-Nya:

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagimu.” (QS Al Baqarah 168)


Sedangkan nafsu senantiasa membujuk manusia agar berbuat jahat seperti yang tersebut dalam firman Allah yang artinya:

“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak manusia berbuat kejahatan” (QS Yusuf 53)

Jelaslah bagi kita bahwa syaitan dan hawa nafsu itu sentiasa mengajak kita menjadi derhaka kepada Allah SWT dan memujuk kita agar tidak mempedulikan akhirat, Syurga dan neraka. Tetapi dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah, maka manusia menjadi mengenal Allah, merasa takut dan merasakan kehebatan-Nya dan juga mengenal Syurga dan neraka sehingga manusia dapat melawan hawa nafsu dan syaitan. Inilah yang tidak dapat dicapai dengan berbagai kemajuan dan pembangunan material. Dengan berbagai kemajuan itu manusia tetap tidak dapat melawan hawa nafsu. Karena itulah, semakin banyak membangun dan semakin maju manusia itu, semakin bertambah derhaka kepada Allah. Semakin manusia menguasai wilayah kekuasaan yang luas dan semakin menindas dan menzalimi. Manusia yang menguasai berbagai macam hilmu pengetahuan belum tentu dapat melawan nafsu dan syaitan. Oleh kerana itu, tidak hairan betapa banyak orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas tetapi masih tetap derhaka dan ingkar kepada Allah.

Apakah hasil daripada manusia dapat melawan hawa nafsu dan syaitan ini?
* Pada awalnya nafsu dan syaitan ini bersifat bakhil dan tamak dan kemudian mendorong manusia untuk bersifat bakhil dan tamak. Tetapi jika sesorang itu dapat melawan hawa nafsu dan syaitan karena takut kepada Allah, takut kepada neraka Allah dan rasa cinta kepada Syurga, maka dia takan terdorong untuk sanggup berkorban.
* Kemudian nafsu dan syaitan pula bersifat sombong yang mengakibatkan manusia menjadi bersikap sombong. Tetapi apabila seseorang dapat melawan hawa nafsu ini karena dia takut kepada Allah, takut kepada neraka dan cinta kepada Syurga, maka dia akan dapat bersikap rendah hati kepada Allah dan kepada sesama manusia, terutamanya kepada sesama kaum muslimin.
* Hawa nafsu dan syaitan juga bersifat tidak mahu mengakui kesalahan jika berbuat salah. Tetapi jika seseorang itu mau melawan dorongan hawa nafsu dan syaitan, maka dia terdorong mau mengakui kesalahan dirinya sendiri. Ini adalah karena manusia itu sudah merasa takut kepada Allah, takut kepada neraka Allah dan cinta kepada Syurga.
* Selain itu, nafsu dan syaitan bersifat tidak suka memaafkan kesalahan orang lain. Tetapi apabila seseorang itu dapat melawan hawa nafsu dan syaitan karena telah kenal dan takut kepada Allah serta takut kepada neraka dan cinta Syurga, maka dia sanggup memberi maaf kepada orang lain yang berbuat kesalahan kepada dirinya.
* Begitu juga hawa nafsu dan syaitan itu bersikap gelisah bila berhadapan dengan kesusahan. Akan tetapi jika seseorang itu dapat melawan hawa nafsu dan syaitan karena takut kepada Allah, takut kepada neraka dan cinta kepada Syurga, maka dia dapat bersikap sabar dan redha ketika berhadapan dengan kesusahan dan bala bencana.
* Kemudian hawa nafsu dan syaitan pula bersikap kejam dan zalim. Tetapi apabila seseorang itu dapat melawan syaitan dan hawa nafsu ini dia akan terdorong untuk bersikap belas dan kasih.

Jelaslah bahwa hasil dari upaya manusia dalam melawan hawa nafsu dan syaitan, maka manusia akan menjadi pemurah dan suka berkorban, rendah hati kepada Allah dan manusia, sanggup mengakui kesalahan diri sendiri, bersedia memaafkan kesalahan orang lain, sanggup bersikap sabar dan redha dan belas kasih. Inilah rahasia untuk melahirkan kasih sayang di tengah masyarakat dan inilah rahasia untuk mewujudkan ketenangan, kedamaian serta keamanan di tengah kehidupan manusia.

Kasih sayang, keamanan serta kedamaian di dalam kehidupan manusia ini tidak akan lahir kalau manusia tidak takut kepada Allah, tidak takut kepada neraka Allah dan tidak cinta kepada Syurga Allah. Manusia yang tidak taku kepada Allah akan bersifat tamak dan rakus, tidak sabar dengan ujian-ujian hidup, bersifat sombong dan kejam dan sebagainya. Akhirnya timbullah perkelahian, perselisihan dan pertentangan di tengah-tengah masyarakat yang menyebabkan hilangnya kedamaian dan ketenangan dalam kehidupan manusia. Inilah akan terjadi walaupun manusia itu maju dan membangun, mempunyai kekuasaan dan wilayah jajahan yang luas dan mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi.

Jadi, yang mampu melahirkan keamanan dan kedamaian di tengah-tengah kehidupan adalah manusia yang dapat melawan hawa nafsu dan syaitan sehingga menjadikan manusia itu memiliki sifat mau berkorban, sabar dan redha, pemaaf, berkasih sayang dan sebagainya. Ini adalah hasil dari rasa takut kepada Allah, takut kepada neraka dan cintakan Syurga Allah. Inilah yang terjadi di zaman Rasulullah, di zaman para sahabat, tabiin dan salafussoleh. Hal ini tidak terjadi di zaman kita dan di kalangan masyarakat Islam kita hari ini karena kita tidak mengikuti ajaran Islam itu dengan sungguh-sungguh.

0 comments:

Post a Comment