Sunday, May 24, 2009

Islam Laksana Sebatang Pohon

pohon_teduh2.jpgDengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
"Tidakkah engkau melihat bagaimana Allah mengemukakan satu perbandingan iaitu: Kalimah yang baik(Islam) umpama sebatang pokok yang baik, yang pangkalnya tetap teguh dan cabang pucuknya menjulang ke langit. Ia mengeluarkan buahnya pada tiap-tiap masa dengan izin Tuhannya dan Allah mengemukakan perbandingan-perbandingan itu untuk manusia, supaya mereka beringat"

QS Ibrahim 14:24 - 25
Seseorang yang hanya dapat menegakkan aqidah dalam dirinya tapi ia tidak beramal dan tidak melaksanakan syariat Allah, jika dibaratkan sebuah pohon adalah pohon yang sekadar memiliki akar. Pohon yang semacam itu belum dapat memberikan manfaat kepada kita. Ada orang yang beraqidah dan mendirikan solat saja. Sedangkan puasa dan zakat tidak dilaksanakan, fardhu kifayah juga tidak ditegakkan. Maka, jika dibaratkan dengan sebuah pohon, pohon itu hanya memiliki akar dan batang, masih belum sempurna. Selanjutnya ada yang rukun Islamnya beres tapi fardhu kifayah tidak ditegakkan, ibadah sunat juga tidak dikerjakan dan seterusnya. Maka, orang yang seperti itu ibarat pohon yang belum sempurna,pohon yang mempunyai akar, batang, dahan tetapi tidak beranting dan tidak berdaun. Kemudian ada sebagian orang dapat melaksanakan perkara sunat walaupun tak penuh, begitu juga hal-hal yang mubah(harus) sedikit banyak dapat dijadikan ibadah. Maka orang yang seperti itu ibarat pohon yang sudah ada sedikit daun, sedikit bunga, tapi belum berbuah. Barulah jika seseorang itu sudah memiliki akhlak yang baik, jika diibaratkan sebuah pohon, maka pohon itu sudah menghasilkan buah. Pohon itu sudah sempurna, sudah lengkap, hanya saja belum rimbun dan belum subur.Kerana akhlak yang baik umpama buah yang manis dan lazat. Itulah hasil terakhir daripada perlaksanaan syariat di dalam ajaran Islam. Perumpamaan orang yang menanam pohon durian tentulah untuk merasai buah durian. Apalah ertinya menanam berekar-ekar pohon durian, malangnya pohon durian itu tidak berbuah. Logiknya kita menanam pohon buah kerana hendak menikmati buahnya. Mana mungkin menanam pohon buah untuk dimakan batangnya, dahannya atau daun-daunnya. Begitulah di dalam Islam, kita mengamalkan aqidah, solat, puasa, zakat, haji kemudian membuat yang sunat-sunat ditambahkan dengan membangunkan ekonomi Islam, pendidikan Islam, kebudayaan Islam, politik Islam agar melahirkan akhlak Islam yang luhur.
Jika majoriti umat Islam telah dapat menegakkan Islam seperti gambaran yang terakhir tadi, tentu umat Islam sudah memiliki kekuatan. Persatuan, perpaduan, kemajuan dan peradaban sudah dibangun, syiar Islam sudah terlihat di mana-mana. Terlebih lagi jika pohon itu sudah sempurna, tumbuh rendang dan rimbun. Jika kita melihatnya, terasa indah dan menarik hati. Sejuk hati kita dan semua orang merasa senang. Siapa saja yang berteduh di bawahnya, mendapat perlindungan dari teriknya matahari. Pohon itu dapat memberi manfaat kepada semua orang yang mendekatinya. Semua orang ingin mendatangiya dan ingin berteduh di bawahnya. Bukan hanya manusia, bahkan burung-burung pun menjadikannya tempat bermain.
Jika pohon Islam yang sempurna itu dapat ditegakkan oleh majoriti umat Islam, barulah umat Islam ini gagah, bersatu padu dan menjadi payung pelindung. Bukan saja memayungi umat Islam, bahkan yang bukan Islam pun layak duduk di bawah payung umat Islam. Di waktu itu Allah akan memberikan kekuasaan di muka bumi ini kepada umat Islam sebagaimana zaman kegemilangannya dulu. Tidak perlu banyak berdakwah, manusia sudah melihat gambaran Islam yang begitu cantik, bersatu padu, berkasih sayang, bersih dari kejahatan. Maka dengan sendirinya orang bukan Islam akan berbondong-bondong masuk Islam, sehingga kita akan merasakan masyarakat yang cantik dan indah.
Tetapi jika kita melihat kepada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, negara kita dan orang-orang Islam di seluruh dunia saat ini, sebagian dari kita hanya mengamalkan aqidah saja, sebagian lagi beraqidah dan solat saja, sebagian yang lain, selain beraqidah dan solat, hanya menegakkan rukun Islam yang 5 saja, sedangan fardhu kifayah tidak dijalankan. Yang paling baik yang dapat kita temui, ada sebagian umat Islam yang beraqidah, menegakkan rukun Islam yang 5, menjalankan 2-3 perkara fardhu kifayah, sedikit-sedikit dapat mengerjakan ibadah sunat dan dapat menjadikan 2-3 perkara yang mubah menjadi ibadah. Tapi mereka adalah golongan yang minoriti. Kadang-kadang itupun sudah menggemparkan dan menghebohkan kerana dianggap ekstrem, kononnya berbuat melebihi Rasulullah SAW. Padahal semua itu masih belum sempurna tapi karena banyak orang yang tidak melaksanakannya, maka orang-orang terkejut, seolah-olah mereka sudah melampaui batas.
Hal itu terjadi kerana selama ini kita mengamalkan Islam tidak seperti pohon yang rendang, tidak selengkap pohon yang sempurna. Kerana itulah kita tidak mendapatkan rasa aman dengan Islam, tidak dapat merasakan bahwa Islam itu cantik dan indah, tidak dapat bersatu padu dengan Islam, tidak dapat berkasih sayang dengan Islam, tidak dapat menegakkan ukhuwah Islamiah melalui ajaran Islam. Masyarakat kita penuh dengan kejahatan, tidak berbeza dengan yang bukan Islam. Akhirnya umat Islam terhina di mana-mana. Allah telah memberitahu kita:
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian isi Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain (Al Qur’an dan sunnah)? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS Al Baqarah 85)
Kalau sifat ini terus dipertahanan sampai masuk ke liang kubur, maka di Akhirat nanti Allah akan mencampakkan kita ke dalam Neraka yang maha dahsyat azabnya, yang maha hebat siksanya. Allah tidak lalai terhadap apa yang kita perbuat. Sebagaimana firman Allah yang artinya :
“Siapa yang membuat kebaikan walaupun sebesar debu akan dilihat dan barang siapa yang membuat kejahatan walaupun sebesar debu akan dilihat.” (QS Az Zalzalah 7-8)
Kalau kita mengambil ajaran Islam itu setengah-setengah, maka kita akan terhina di dunia dan di Akhirat mendapat mendapat balasan neraka. Itulah jaminan dari Allah. Allah Maha Suci dari salah dan dosa. Kata-kata Allah adalah Maha Benar. Jika kita tidak melaksanakan dan memperjuangkan Islam itu secara utuh dan menyeluruh maka kita akan terhina dimana-mana dan kalah dimana-mana.
Kita ambil satu contoh kehinaan di dunia. Di bidang pendidikan, berapa banyak umat Islam yang telah mendidik anak-anaknya secara Islam? Padahal yang sepatutnya diutamakan menerima pendidikan Islam adalah anak-anak. Dalam hadist disebutkan:
“Hendaklah kamu perintahkan anak-anak kamu solat ketika telah sampai berumur tujuh tahun. Ketika sudah sampai sepuluh tahun tidak mahu solat, boleh dipukul (yang tidak mencacatkan).” (Riwayat Ahmad ibn Hambal, Abu Daud dan At-Tirmidzi)
Solat adalah tiang agama. Solat adalah perkara yang paling penting setelah rukun Iman. Ertinya kalau kita ingin mendidik anak-anak kita sejak kecil, apakah sistem pendidikan ini sudah kita jalankan? Apakah kita sudah mengenalkan solat sejak mereka masih kecil, sudah mengajarkan bersuci, sudah mengenalkan jenis-jenis air, sudah mengenalkan najis, sudah mengajarkan mana yang halal mana yang haram, sudah mulai mengajarkan hukum-hukum walau untuk hal-hal yang sunat sekalipun?
Bahkan anak-anak mubaligh dan ustaz pun belum tentu mendapatkan didikan ini sejak kecil. Tapi ketika mereka tak lulus ujian, peperiksaan akademik, mereka kita hukum. Itu sudah terbalik. Dan apa akibat kita lalai mendidik anak-anak kita dengan sistem pendidikan Islam? Anak-anak kita bukan saja tidak mengenal Allah, bahkan ayah ibunya pun tidak dihormati. Kalau pergi dan pulang sekolah tidak mengucapkan salam, tidak mendoakan ayah ibunya. Setelah besar, ibu jadi hamba, anak jadi tuan. Inilah salah satu tanda-tanda kiamat. Anak-anak yang tidak dididik secara Islam, dengan sedikit ijazah yang diperolehnya kemudian mendapat pekerjaan, sesampainya di rumah mereka bercekak pinggang, berani memberi perintah itui dan ini kepada ibu, malas menyajikan makan minum kepada ibu dan ayah, lebih senang melayani bos di tempat kerja daripada melayani ayah ibu. Itulah satu kehinaan di dunia.
Begitu juga kita tidak menganggap membangun klinik dan rumah sakit secara Islam itu fardhu kifayah. Sistemnya secara sistem Islam. Kalau isteri bersalin disambut olehi doktor laki-laki, tentu itu satu kehinaan.Aurat isteri yang ibubapa jaga sejak kecil, kemudian suami jaga semenjak perkahwinan, akhirnya terbuka dan terhina dihadapan doktor lelaki. Ampun maaaf, kekadang doktor lelaki ini pula daripada bangsa yang bukan Islam. Dimana maruah kita sebagai umat Islam? Di dunia lagi Allah hina, akhirat tentu lebih dahsyat hukuman Allah pada kita..Waiyyazubillah. Tetapi kita tidak merasa terhina karena hati telah hitam. Hati ditempa oleh makanan dan minuman. Bila makanan kita haram dan syubhat, maka itu akan menghitamkan hati. Bila hati hitam, hati keras, walaupun sudah melihat kebenaran tapi terasa berat untuk menegakkan solat, berat berpuasa, malas berjuang. Sebaliknya dengan maksiat hati merasa senang.
Pada hari ini kita dapat menyaksikan banyak umat Islam yang memperjuangkan Islam hanya bersandarkan kekuatan lahiriah. Padahal Allah memenangkan umat Islam berdasarkan taqwa dan sebaliknya, Allah memenangkan orang kafir dengan quwwah/ kekuatan lahiriah. Umat Islam saat ini, kekuatan lahiriyah tidak ada, taqwa pun tidak ada. Karena itulah kita terhina di mana-mana. Bukan saja terhina di dunia bahkan juga akan terhina di Akhirat. Hanya jika kita bertaqwa maka barulah kita akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Seluruh aspek dalam Islam harus diperjuangkan untuk keselamatan kita. Oleh kerana itu, kita harus mempelajari, mengamalkan dan memperjuangkan ajaran Islam secara utuh dan menyeluruh.

0 comments:

Post a Comment